Cerita stadela

Karena saya seorang anker (anak kereta), setiap hari saya mendatangi dan meningggalkan stasiun. Stasiun itu adalah depok lama, sering disebut stadela. Saya menggunakan sepeda motor dari rumah menuju stadela dan memarkirnya disana. Rumah-stadela ditempuh dalam waktu kira kira 10 menit. Di jalan stadela, terhampar pilihan tempat parkir. Kebanyakan rumah warga di kanan dan kiri jalan stadela, dipakai untuk tempat parkir , sampai tumpah ke pinggiran jalan. Selain tempat parkir juga terdapat berbagai warung makan dan minuman, tempat fotokopi, dan warung kelontong. Ada juga penjual cd dan dvd musik/film.

Yang menarik dari semua tempat parkir itu –saya menyebutnya parkir swasta–, harganya lebih murah dibandingkan tempat parkir resmi stadela yang sekarang mencapai 6 ribu rupiah. Selisihnya 2 ribu rupiah, lumayan kan kalau diakumulasi sebulan setahun dan seterusnya.

Kedua, tempat parkir resmi stadela tidak dilengkapi atap. Jadi motor tetap panas kepanasan dan hujan kehujanan. Sedangkan semua tempat parkir swasta beratap.

Ketiga. Jika parkir resmi stadela sudah menggunakan kartu komet, bca flash, mandiri maupun brizzi sebagai pengganti tiket parkir, parkir swasta tidak menggunakan apapun, karcis dsb tidak berlaku. Yang ada hanyalah kepercayaan. Kok bisa ya? Dengan hanya menyebutkan plat dan tipe motornya, penjaga parkir langsung mengambilkan motor kita. Sederhana bukan? Dengan cara seperti ini, sampai hari ini saya belum pernah mendengar berita pencurian atau kehilangan motor. Alhamdulillah aman.

2 thoughts on “Cerita stadela

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s