Planning & supervisi

Planning memang penting. Namun, supervisinya tentu lebih penting. Planning harus rijit? Ya! Namun, kesadaran penuh akan ‘tujuan besar’nya harus lebih ditanamkan mengakar ke hati, jika tidak? Yakin deh, bakal g ada yang namanya supervisi, atau kalaupun ada pasti tidak bertahan lama, walaupun sebagus dan se-wah apapun planning itu dibuat.

Mari menyimak contoh planning dari seseorang. Beliau adalah seorang profesor bidang informasi spasial, Prof DR Fahmi Amhar.

“target pribadi: hafalan Qur’an tambah 2 juz (Hafidz in 15 years!). Target keluarga: si sulung masuk universitas top dengan beasiswa. Target pendidikan: lancar Arab gundul, jangan gondrong melulu. Target karier: melaksanakan 10 training komersial dan 10 training sosial. Target finansial: menembus 1 M, tapi M bukan Megabyte . Target amal: memberdayakan 10 dhuafa. Target karya: menghasilkan 4 buku baru, 3 jurnal, dan 1 paten. Target politik: berhasil mengakses 10 tokoh politik berpengaruh. Target hobi: pameran karya fotografi dan koleksi numismatik. Target pengalaman: tercapai 33 provinsi dan 33 negara”

So, Ambil yang memungkinkan, tunda (dan jangan lama-lama) mengambil yang belum memungkinkan :)

sedang di lab ma…

Seorang ibu sedang berada di sebuah restoran. Duduk, menunggu makanan yang sudah dipesannya. Suaminya sedang ke belakang sebentar. Di meja sebelah, duduk dua orang, sepasang muda mudi yang asyik ngobrol, cekakak cekikik berdua, mesra sekali. Nampaknya mereka sedang pacaran.

Beliau sebenarnya acuh dengan kehadiran dua sejoli itu. Namun bunyi hp dan percakapan gadis itu via telepon terdengar jelas.

“hai, mama, apa kabar?” nampaknya yang menelpon adalah ibunya

“hmm, iya ma, baik baik saja, sehat, papa gimana”

…percakapan itu otomatis terdengar oleh beliau karena jarak yang sangat dekat. Maklum restoran itu memiliki jarak antar meja yang bisa dibilang mepet. Dan gadis itu berbicara di telepon dengan suara lumayan keras.

“iya ma, ni baru sibuk nih ma”

“hmm, ini ma, sedang di lab nih sama temen kuliah”

“gapapa kok ma, g ganggu, ni sedang ada praktikum tambahan, baru g ada dosennya kok”

“oke ma, sampai jumpa, mmuah” Gadis itu menutup teleponnya.

Beliau gemetaran, antara kaget dan tidak percaya dengan apa yang diucapkan gadis itu pada ibunya. Beliau langsung teringat anaknya yang sudah mau lulus sma, gadis juga.

*kisah nyata dengan modifikasi
(terinspirasi dr secuil contoh kisah nyata dalam krph bersama ustzh asri widiarti via mp3)

Kompetisi

Berikut saya copas ‘serial kepahlawan’ yang ditulis oleh seorang anis matta. Beliau sekarang adalah anggota DPR. menurut saya anggota DPR yang seperti ini sangat langka. Banyak yang belum tau juga sebenarnya siapa beliau, karena menganggap ‘paling sama saja dengan anggota seseorang dengan kapasitas keilmuan yang luar biasa.

Kompetisi

Para pahlawan mukmin sejati tidak akan membuang energi mereka untuk memikirkan seperti apa ia akan ditempatkan dalam sejarah manusia. Yang mereka pikirkan adalah bagaimana mereka meraih posisi paling terhormat di sisi Allah swt. Itulah sejarah yang sebenarnya. Jika suatu ketika sejarah manusia memberi mereka posisi yang terhormat, itu hanyalah – seperti kata Rasulullah saw, “berita gembira yang dipercepat.”

Ridha Allah dan tempat yang terhormat di sisi-Nya.Itulah cita-cita sejati para pahlawan mukmin. Itulah ambisi yang sebenarnya, ambisi yang disyariatkan, ambisi yang mendorong lahirnya semangat kompetisi itu sangat berbeda dengan kompetisi di medan lain. Yang membedakannya adalah luas wilayah kompetisi yang tak terbatas, kecuali oleh batasan kebaikan itu sendiri. Sebab, hadiah yang disediakan untuk para kompetitor itu juga tak terbatas.

Dari mata air inilah para pahlawan mukmin sejati itu mereguk surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang bertakwa, “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran: 134).

Kompetisi adalah semangat yang melekat dalam diri para pahlawan, karena ini merupakan cara terbaik untuk mengeksploitasi potensi-potensi mereka. Maka, mereka membutuhkan medan kompetisi yang tak terbatas, sebab ketidakterbatasan itu akan mendorong munculnya semua potensi tersembunyi dalam diri mereka. Dan, medan kompetisi ini memang tidak terbatas, sebab medannya adalah “amal sholih”, dan amal sholih itu beragam serta tidak terbatas.

Kompetisi juga merupakan cara terbaik untuk membedakan “peringkat” para pahlawan sejati itu di mata Allah swt. Itulah sebabnya Allah swt menyebut generasi mukmin angkatan pertama sebagai assabiqunal awwalun (orang-orang pertama yang mendahului) atau semacam ‘edvvanced competitor’. Itu pula sebabnya Allah swt memberi ganjaran pahala yang berbeda-beda sesuai dengan capaian masing-masing mereka.

Indikator yang digunakan untuk menilai kompetisi itu adalah paduan-paduan yang harmonis antara waktu (kecepatan), kualitas, kuantitas, dan manfaat sosial dari setiap unit amal yang kita lakukan. Maka, pahala mujahidin Badar berbeda dengan pahala para mujahidin dari peperangan lain selain Badar.

Begitulah akhirnya para pahlawan mukmin sejati itu memaknai kebahagiaan. “Setiap kali ia menyelesaikan satu unit amal, dalam tempo yang ringkas dan cepat, dengan kualitas maksimum, dan dengan manfaat sosial sebesar-besarnya, barulah mereka dapat menikmati rentang waktu itu. Kebahagiaan mereka terletak pada selesainya unit-unit amal shalih yang mereka kerjakan dengan cara yang sempurna”.

menjadi blogger

Saya menyadari, mungkin saya termasuk blogger yang ‘mood-moodan’. Tanda tandanya jelas sekali. Blogger sejati terlihat dari tanggal berapa saja dia posting tulisan tulisannya. Coba diamati, pastilah dia jarang berhenti posting dalam waktu yang lama. Konsistensi posting dia bagus. Jika dilihat dari arsipnya, pastilah merata tiap bulannya, atau yang lebih sejati lagi, pastilah merata tiap harinya, wow.

Ya, beginilah saya, karena kesibukan (huek-huek), jadinya ya saya dicap (oleh diri saya sendiri) sebagai blogger yang mood-moodan. Bahkan saya sering lama berhenti, dan ketika aktif posting, sehari bisa posting 3 atau lebih tulisan. Hehe

Saat ini saya punya blog yang saya azzamkan untuk saya ‘openi’, selain wordpress ini tentunya, masih ada 2 lagi, yaitu www.ardian9.multiply.com dan www.kompasiana.com/a-an.

Yakin g yakin jalan, yang penting jalankan! Siap ndan!!!

*)dalam rangka mengejar 34 postingan :)

Lift vs tangga

lift (kandycitycentre.lk)

Lift memang sangat berguna untuk menghemat energi. Gedung kantorku berlantai 12 plus dua lantai basement, B1 dan B2. Ada 4 buah lift yang disediakan, masing masing mampu menampung maksimal 15 orang. 1 diantaranya tidak mengakses lantai B1 dan B2. Dan hanya ada 2 yang lainnya yang mengakses lantai 12, yang disebut penthouse karena hanya berisi beberapa ruang pertemuan yang juga disewakan. Yang lainnya, hanya sampai lantai 11.

Penggunaan lift lebih dominan. Karena tangga darurat biasanya hanya digunakan ketika, pertama, saat hampir mendekati jam8. Demi mengejar presensi ‘finger print’, dapat dipastikan di lantai 1 sudah banyak yang antri untuk menggunakan lift. Meskipun jumlahnya 4, namun ada saja yang harus mengantri sampai beberapa kali. Nha, saat inilah tangga darurat laris manis, terutama bagi yang berkantor di lantai 2 s.d empat. Utk lantai 5 keatas mungkin lebih banyak yang rela menunggu lift kosong daripada bersusah payah naik tangga darurat yang lumayan menguras energi.

Kedua, ketika waktu pulang tiba, yakni jam 17.00 wib. Pulang tepat waktu menjadi favorit. Makanya, cukup lama menunggu lift untuk turun -terutama saya yang di lantai 3-, karena keempat lift biasanya sudah dipenuhi ‘penumpang’ dari lantai yang lebih atas. Akibatnya, tangga darurat menjadi alternatif yang lumayan cepat, alih alih olahraga turun tangga :) .

Ketiga, ketika hanya berpindah satu lantai, baik ketika mau turun maupun naik. Kalau untuk yang satu ini, biasanya tergantung mendesaknya keperluan. Jika sangat mendesak, tangga menjadi pilihan yang lebih, daripada menunggu ketidakpastian lift datang. Walaupun sebenarnya jika langsung mendapatkan lift, jadinya lebih cepat. Hal ini biasanya tidak berlaku untuk OB (office boy). Para OB selalu menggunakan lift walaupun hanya berpindah satu lantai. Kenapa? Karena frekuensi perpindahan lantai mereka yang sangat sering, jadi dengan selalu menggunakan lift, mereka bisa sangat menghemat energi.

Doamu tiada tandingan

jika didepanku…

sedih engkau tutup senyuman
dan luka engkau ubah gembira

tangis juga engkau tahan
sebab apa engkau menahan?

semua kau berikan
bahkan untuk dirimu hampir tiada

….

kini aku jauh darimu
telah lama aku merindumu
dan kini aku harus mengadu

gerimis bukan halangan
apalagi hujan
petang bukan cobaan
apalagi gelap malam

jika niat sudah bulat
dan tercipta satu tekad

ibu, aku akan pulang
agar kau senang
menyambutku riang
karena aku akan pulang

jadikan baktiku sebagai persembahan
karna doamu tiada tandingan

mhn doa restu selalu, ibu

*puisi untuk ibu bukan hanya di hari ibu saja yaa. :)

spiritual company

(Lion delay)… Ini adalah delay terparah yang pernah kualami. Jadwal terbang yang seharusnya jam 19.00, delay sampai jam 21.30, wow. Yang lebih membuat saya dongkol adalah ketika jam 20.00 saya tanya ke petugas di gate, dia jawab ‘iya, sbntar lagi boarding mas’, padahal masih lama. Inilah salah satu ‘kebohongan’. Ada lagi kebohongan yang lain. Saat saya sudah duduk di pesawat, sebelah saya curhat juga tentang bagaimana dia dikecewakan. Saat bulan lalu beliau ke palembang, dan pekerjaannya sudah selesai, beliau bergegas menuju loket mengajukan tiket untuk dimajukan, yang awalnya sore menjadi siang jam 11an. Petugas tiket mengenakan charge 150rb, beliau oke oke saja. Dan ketika ditanya alasannya, sang petugas menjawab kalau kursinya tinggal satu. Beliau semakin memaklumi. Namun, ketika beliau memasuki pesawat, ternyata masih banyak kursi kosong. Waduh, bohong banget! apalagi ini sama kastemer, gila!.

Naah, kalo punya bisnis nanti jangan gitu ya. Jadi inget twitnya masmono yang mengusung “spiritual company”. Bahkan karyawannya di seluruh outlet ayam bakar masmono ‘diwajibkan’ sholat dhuha, ada presensinya, tiap hari! Mantebb (doble B) dah. Kalo sudah seperti itu, nilai nilai kejujuran, etika pelayanan, senyuman, pastilah tersaji disana. Jadi penasaran, dimana sih outletnya? Kok aku belum nemu ya…

Satu lagi pengalaman beli helm kemaren. Ak dan mas satrit, temen kantorku, jalan bareng ke jl kebun jeruk (deket harmoni, hayam wuruk) yang katanya pusat perlengkapan aksesoris motor terlengkap di asia tenggara. Kami sampai mengunjungi 4 toko helm. Kami puas dengan took yang keempat karena karyawan yang melayani kami selalu senyum dan sabar. Beda dengan toko sebelumnya yang bahkan berani ngomong gini, “jadi g mas?” dengan nada agak tinggi. Heran??!!!

Kembali ke spiritual company. Ketika kita baru jadi karyawan, maka yang bisa kita lakukan ‘hanya’ mengajak. kita tahu manfaat dhuha misalnya, maka bukan perintah dengan presensi yang kita hadirkan kepada kanan kiri kita, namun, ajakan, ya hanya ajakan. Ketika tangan semakin membesar, maka ajakan itu bisa ‘dilegalkan’ menjadi perintah kepada bawahan/staff/anak buah, dsb. bahkan seperti mas mono yang menghadirkannya dengan presensi. bukan pragmatisme semata jika ada niat dan harapan agar spiritual menjadikan kita banyak rezeki. Namun, konsep itu memang seharusnya bebarengan dengan keikhlasan niat, toh juga janjiNya memang seperti itu, so sah sah saja jika menjadi motivasi pengiring keikhlasan. Yang aku yakini adalah semakin tinggi tingkat spiritual seseorang, maka sikap, akhlaknyapun akan semakin indah. Keduanya seperti gayung bersambut.

So, bagaimana pilihan (cara) pekerjaan (bisnis)mu?